RANGKUMAN MATERI 1 SAMPAI 11
PENGERTIAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Sebagai makhluk sosial kita tidak terlepas dengan yang
namanya komunikasi, apalagi kita sebagai orang Indonesia tidak lepas akan
perbedaan suku, budaya, ras, agama. Untuk itu, kita harus memiliki sikap
MINDFULNESS (cara pandang baru untuk memahami perbedaan budaya) dan mempelajari
budaya orang lain sebanyak mungkin untuk menghindari culture shock. Agar
komunikasi lintas budaya kita efektif, serta perlu menyadari akan perbedaan,
dan jangan mengenalisir suatu kelompok/budaya karena makna pesan terdapat pada
orang nya bukan pada gerak-gerik.
Cara
mengatasi hambatan komunikasi antarbudaya
Setiap orang harus memiliki sikap mindfulness “kesiapan
merubah cara pandang dan motivasi untuk menggunakan cara pandang baru dalam
memahami perbedaan budaya dan kesiapan bereksperimen dalam mengambil keputusan
dan memecahkan masalah”. Hambatan yang sering terjadi karena adanya sikap
mindfulness adalah ketergantungan yang sangat kuat terhadap cara pandang lama
yang merupakan kebiasaan.
Tips meningkatkan
efektivitas komunikasi antarbudaya
- Sadarilah perbedaan budaya
- Jangan bersikap stereotip, mengeneralisasi, menganggap perbedaan suatu kelompok tidak penting.
- Ingat bahwa makna ada pada orang dan bukan pada gerak-gerik
- Hindari soft culture (kejutan budaya dengan mempelajari sebanyak mungkin kultur pihak lawan bicara)
DEFINISI, RUANG LINGKUP DAN DIMENSI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Definisi komunikasi antar budaya
Sebelum
kita mengetahui apa definisi dari komunikasi lintas budaya, Kita lihat
unsur-unsur yang utama dalam komunikasi.
Unsur-Unsur
Utama Dalam Komunikasi Yang Berlangsung :
- Komunikator (penyampai pesan)
- Pesan (isi)
- Media komunikasi
- Komunikan (penerima pesan)
- Feed back (umpan balik)
Agar
komunikasi berjalan lancar maka setiap unsur komunikasi harus diperhatikan itu
sangat penting. Sehingga menghasilkan feed back.
Bagaimana
mengembangkan ketrampilan berbicara?
- Tingkatkan kemampuan berbahasa dengan baik.
- Latih kemampuan mendengar.
- Belajar dan mengerti cara pandang orang lain dengan pemikiran terbuka dan berusaha melihat sesuatu dari perspektif yang lain.
- Hindari komunikasi di situasi yang emosional.
- Aktif dalam organisasi.
- Memiliki pengetahuan luas tentang pesan yang akan disampaikan.
- Penyampaian pesan disusun dengan baik.
- Memiliki kemampuan untuk memberikan tanggapan atas feed back oleh komunikan.
Pengertian Budaya
- Ebt Lord (Antropolog Inggris) mendefinisikan budaya sebagai suatu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat dan lainnya yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
- Surjon Sukanto (seorang sosiolog) mengartikan budaya sebagai suatu yang mencakup semua yang dapat dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Suatu system gagasan dan tindakan serta karya yang dihasilkan oleh manusia ini dalam kehidupannya yang bermasyarakat.
- Kuncoro Ningrat dari bahasa inggris sebagai segala daya dan kegiatan manusia itu mengolah dan mengubah alam.
KOMUNIKASI INTERNASIONAL
Stevenson (1994:543): “It’s hard to define, but you know
it when you see it”.
Selain sulit didefinisikan, para ahli komunikasi pun
memberi istilah yang saling berbeda tentang komunikasi internasional ini. Ada
yang menyebutnya dengan istilah “global communication” (Maulana), “world
communication” (Hamelink, 1994), atau “transnational communication” (volkmer).
Sementara Kamalipour (2002:xii-xiii) selain menerima
istilah di atas, ia menambahkan pula istilah “transborder communication,
intercultural communication, cross-cultural communication dan international
relations” sebagai padanan lain dari istilah komunikasi internasional”.
Bagi Kamalipour, semua istilah itu mengandung konsep yang
multidimensional dan sangat kompleks. Karena itu, setiap usaha merumuskan
definisi yang sederhana pasti hasilnya tidak lengkap dan akan mengundang
perdebatan. Kata “international” didefinisikan Collins English Dictionary
(2006:417) sebagai: “1) of or involving two or more nations.”. Rumusan ini menjelaskan
adanya hubungan antarnegara, bangsa satu dengan yang lainnya. Dari defenisi
ini, dapat dipahami bila ada yang mengartikan komunikasi internasional oleh
McMillin (2007:8) sebagai: ”komunikasi yang berlangsung antarbatas persilangan
internasional yakni yang melintasi batas-batas negara-bangsa”(Fortner, 1993:6).
Sementara McPhail merumuskan komunikasi internasional
sebagai “The cultural economical, political, social and technical analysis of
communication patterns and effects across and between nationstate”(2000:2).
Dari definisi-definisi itu dapat dilihat bahwa komunikasi internasional lebih
berfokus sebagai bagian dari studi hubungan internasional (Mowlana, 1996;1997).
Fokus hubungan internasional selama ini berpusat pada interaksi antarnegara dan
antarpemerintahan yang dilakukan melalui diplomasi dan aktivitas propaganda
yang menempatkan negara yang kuat mendikte agenda komunikasi negara yang lemah.
Allyne (1995:7) misalnya, mengaitkan hubungan internasional dengan komunikasi
internasional. Bila hubungan internasional diartikan substansial sebagai
kekuasaan (power), maka ada tiga kekuasaan yang menonjol dalam dinamika
hubungan internasional, yakni: militery power, economic power and power over
opinion. Unsur power over opinion inilah yang secara khusus menjadi bahasan
dari kajian komunikasi internasional.
Sejarah Komunikasi Internasional “Sejarah komunikasi internasional dan pertukaran budaya”
kata Kamalipour, dalam Global Communication (2002:viii), “sama tuanya dengan
peradaban manusia”. Masyarakat beradab yang tidak pernah dipengaruhi oleh
kebudayaan lain, tak akan pernah ada. Pada masa kuno atau abad pertengahan
saling mempengaruhi peradaban adalah sesuatu yang lumrah. Tidak ada seorang pun
yang mengeluhkannya. Tetapi belakangan, tepatnya sejak abad ke-19 pengaruh
kebudayaan asing mulai menjadi masalah karena dua alasan kata Kamalipour.
Pertama, batas dan skala pengaruh kebudayaan asing meningkat signifikan. Kedua,
bangkitnya nasionalisme di banyak kawasan negeri telah mempengaruhi cara
pandang orang terhadap kebudayaan asing. Lahirnya komunikasi internasional di
Amerika, Inggris, dan hampir di seluruh kawasan Eropa adalah pada abad 20 dalam
konteks propaganda, ekspansi nasional dan penaklukan. Untuk kepentingan riset
propaganda, Amerika pada PD I dan II telah membentuk program komunikasi
internasional sebagai bidang studi yang resmi di berbagai universitas Amerika
Utara. Para sarjana komunikasi antara 1920-an hingga 1950-an banyak berasal
dari disiplin ilmu sosiologi, ekonomi dan ilmu politik(McMillin,2007:28).
Pada 1926 Harold D. Lasswell mengkaji teknik-teknik
perang psikologis bersama Walter Lippman, editor devisi propaganda Amerika.
Mereka mempelajari efek teknologi komunikasi terhadap dunia Barat. Hasilnya
kemudian, membawa bidang studi komunikasi menjadi bagian dari ilmu sosial.
Keduanya – Lippman dan Lasswell – mempromosikan rumus: “who – say what – to
whom - with what effect”. Pada 1955 Massachusetts Institute of Technology
(MIT), Amerika, telah membuka sebuah program studi, bernama:”Studi Komunikasi
Internasional” yang disponsori oleh yayasan perguruan tinggi itu (Allyene,
1997:9). Sejak 1960-an bidang studi ini kemudian dilembagakan di Amerika
sebagai salah satu bagian dari bidang studi “Hubungan Internasional”. Banyak
sarjana komunikasi internasional dididik dengan latar belakang hubungan
internasional seperti misalnya, Hamid Maolana. Sementara yang lain berlatar-belakang
ilmu sosiologi seperti Everet M. Rogers dan ilmu psikologi seperti Karl
Nordenstreng.
Sehabis Perang Dunia II, terjadi Perang Dingin (Cold War)
antara Blok Barat yang dipimpin Amerika dengan Blok Timur yang dipimpin Uni
Soviet. Perang ini berlangsung dari 1945 hingga 1989 saat tembok Berlin runtuh.
Amerika mewakili ideologi kapitalis dan Soviet mewakili ideologi sosialis. Dalam
konteks pergulatan komunikasi internasional, Amerika memperjuangkan
laissez-faire dan free flow of information yang digagas Komisi Huchin.
Belakangan Unesco juga menuntut free flow across border to lead better world
yang didukung para peneliti program riset komunikasi internasional (KI) yang
tergabung dalam MIT Center for International Studies. MIT ini lalu membentuk
Program Riset dalam Komunikasi Internasional yang dipimpin Lasswell, Ithiel de
Sola Pool, Karl Dutsch, Daniel Lerner, Schramm, dan Lucian Pye. Riset mereka
didanai Ford Foundation. Keterlibatan Amerika dalam PD II dengan Soviet,
membuat para peneliti bias Barat karena strategi KI dirancang agar proBarat dan
anti-komunis.
Paradigma KI yang menjual doktrin free flow dan the ideal
to lead better world kemudian dilegitimasi oleh metoda riset komunikasi yang
berpusat pada efek empiris media yang diprakarsai Lasswell, Lazarsfeld dan
Hovland. Lahirnya paradigma pembangunan modernisasi yang di dalamnya
menempatkan media sebagai magic multiplyer effects pembangunan, telah dijadikan
sarana untuk mencapai cita-cita perubahan masyarakat dari tradisonal menuju
modern. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, agensi-agensi
kantor berita Barat seperti Reuters atau French Press Agency dan Associated
Press (AP) telah mengkonstruksi realitas dunia menurut persepsi Barat. Kala
itu, Barat lebih banyak memberitakan berbagai peristiwa negatif negara-negara
Dunia Ketiga seperti Amerika Latin, Afrika dan Asia. Mereka digambarkan sebagai
negara yang penuh bencana, kudeta, revolusi dan berita-berita negatif lainnya.
Di tengah kondisi demikian, datang tawaran pinjaman utang
luar negeri, alih teknologi dan resep budaya agar negara-negara Dunia Ketiga
mengikuti jalan modernisasi Barat dan sebagian negara Amerika Latin, Afrika dan
Asia pun mengikuti jalan tersebut. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, pada
1960-an diam-diam muncul para sarjana komunikasi Eropa yang tergabung dalam
International Association Communication Research (IAMCR). Kelompok ini berasal
dari Association for Education in Journalism and Mass Communication (AEJMC) yng
memiliki tradisi riset kritis. Dengan bantuan Unesco, mereka membentuk
Education and Research in International Communication. Dalam riset-riset
mereka, ditemukan betapa program-program berita dan hiburan Barat mendominasi
media Amerika latin, Afrika dan Asia. Karena itu, mereka melihat adanya
imperialisme baru yang bukanlah dilakukan secara hard power melainkan melalui
soft power yang disebutnya sebagai imperialisme budaya dan media. Munculnya
mazhab Frankfurt dalam studi komunikasi internasional melalui perspekrtif
dependensia dan ekonomi politik misalnya, studi komunikasi internasional telah
mengalami “de-westernisasi”, meminjam istilah Curran dan Park (2000) sehingga
muncul perspektif alternatif pada studi komunikasi internasional dari Eropa dan
Asia.
Konsep Komunikasi Internasional : who says what in which channel to whom with what
effect.
Kriteria Komunikasi Internasional
- Jenis isu, pesannya bersifat global.
- Komunikator dan komunikannya berbeda kebangsaan.
- Saluran media yang digunakan bersifat internasional.
- Interaksi dan ruang lingkupnya bersifat lintas negara serta berlangsung di antara orang-orang yang berbeda kebangsaan dan memiliki jangkauan penyampaian pesan melintasi batas-batas wilayah suatu Negara.
Fungsi Komunikasi internasional
- Membangun dan mempererat hubungan internasional antar negara dengan meningkatkan kerjasama dan menghindari berbagai konflik, baik konflik satu negara dengan negara lain maupun konflik pemerintahan dengan masyarakat pada suatu negara.
- Membangun dinamisme hubungan antar negara dan menjalin hubungan baik taraf internasional dengan mencakup kajian dan fokus di berbagai bidang dan kelompok masyarakat pada masing-masing negara maupun antar negara. )
- Berperan sebagai pendukung pelaksanaan politik luar negeri yang baik dan berkualitas pada negara-negara yang terkait dalam melaksanakan kepentingannya satu sama lain.
Ruang Lingkup Komunikasi Internasional
- Perspektif Diplomatik.
- Perspektif Jurnalistik
- Perspektif Propaganda
- Perspektif Kulturalistik
- Perspektif Bisnis
PROSES, TEORI DAN MODEL KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Proses Komunikasi Lintas Budaya
Pada hakikatnya proses komunikasi antar budaya sama
dengan proses komunikasi lain yakni suatu proses yang interaktif dan
transaksional serta dinamis.Salah satu contoh misalnya: komunikasi antar budaya
yang interaktif adalah komunikasi yang di lakukan oleh komunikator dengan
komunikan dalam dua arah atau timbal balik. Komunikator dalam komunikasi antar
budaya adalah pihak yang memprakarsai komunikasi. misalnya Ani memulai
percakapan dengan Ali yang mana Ani berasal dari suku bugis sedangkan Ali
berasal dari suku makassar tetapi mereka tidak menggunakan bahasa dari suku
masing-masing tetapi dengan bahasa kesatuan,bahasa indonesia.
Komunikan dalam komunikasi antar budaya adalah pihak yang
menerima pesan tertentu dia menjadi tujuan atau sasaran komunikasi dari pihak
lain (komunikator).Tujuan komunikasi akan tercapai mana kala komunikan menerima
pesan dari komunikator dan memperhatikan serta menerima pesan secara
menyeluruh. Dalam proses komunikasi pesan berisi pikiran, ide atau
gagasan, perasaan yang di kirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol.
Teori Komunikasi Lintas Budaya
“Samavor dan
porter” menjelaskan bahwa komunikasi antar budaya terjadi manakala bagian yang
terlibat dalam komunikasi tersebut membawa latar belakang budaya yang berbeda.
Perbedaan tersebut meliputi keyakinan, tata nilai pengetahuan dan pengalaman
yang mencerminkan sebagai suatu yang dianut oleh kelompoknya.
a.
Teori Kecemasan dan Ketidakpastian
Teori ini
dikembangkan oleh William Gudykunts yang memfokuskan pada perbedaan budaya
antar kelompok dan orang asing. Gudykunts berpendapat bahwa kecemasan dan
ketidakpastianlah yang menjadi penyebab kegagalan komunikasi antar kelompok.
lebih lanjut ia menjabarkan bahwa terdapat enam konsep dasar dalam teorinya ini
yaitu : konsep diri, motivasi berinteraksi dengan orang asing, reaksi terhadap
orang lain, kategori sosial orang asing, proses situasional, koneksi dengan orang
asing.
b.
Teori Negosiasi Wajah
Teori yang
di kemukakan oleh Stella Ting-Toomey ini menjelaskan bagaimana
perbedaan-perbedaan dari berbagai budaya dalam merespon berbagai konflik yang
dihadapi. Ia berpendapat bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu
mencitrakan dirinya didepan publik, hal tersebut merupakan cara baginya agar
orang lain melihat dan memperlakukannya. Terkait dengan hal tersebut, dalam
teori ini juga dijelaskan lima model dalam pengelolaan konflik yang meliputi :
Avoiding (penghindaran), yaitu berkaitan dengan upaya untuk menghindari
berbagai macam konflik yang dimungkinkan terjadi. Obliging (keharusan), yaitu
berkaitan dengan keharusan untuk menyerahkan keputusan pada kesepakatan
bersama. Comproming, berkaitan dengan saling memberi dan menerima segala
sesuatu agar sebuah kompromi dapat tercapai. Dominating, berkaitan dengan
dominasi salah satu pihak dalam penanganan suatu masalah. Integrating,
berkaitan dengan penanganan secara bersama-sama terhadap suatu masalah.
c. Teori Kode Bicara Gerry Phillipsen
Dalam teorinya ini berusaha menjelaskan bagaimana
keberadaan kode bicara dalam suatu budaya. Dan juga bagaimana kekuatan dan dan
substansinya dalam sebuah budaya. Lebih lanjut ia menjelaskan kiranya terdapat
lima proporsi dalam teori ini yaitu: - Dimanapun ada budaya, disana pasti ada
kode bahasa yang menjadi ciri khas. - Sebuah kode bahasa mencangkup sosiologi
budaya, retorika dan psikologi budaya. - Pembicaraan yang signifikan bergantung
pada kode bicara yang digunakan pembicara dan pendengar untuk mengkreasikan dan
menginterprestasi komunikasi mereka. - Berbagai istilah aturan dan premis
terkait dalam pembicaraan itu sendiri - Kegunaan suatu kode bicara adalah untuk
menciptakan kondisi yang memadai. Kondisi yang terkait dengan prediksi,
penjelasan dan kontrol guna menciptakan formula wacana tentang kecerdasan,
kebijaksanaan dan moralitas perilaku dalam berkomunikasi.
Model Komunikasi Lintas Budaya
a. Menurut
Porter & Larry A. Samovar Budaya mempengaruhi prilaku komunikasi individu,
budaya yang berbeda akan menghasilkan pengaruh serta sifat komunikasi yang
berbeda pula. Ketika seorang individu berkomunikasi dengan individu lain yang
memiliki kebudayaan berbeda maka makna pesan yang disampaikan komunikator akan
berubah mengikuti persepsi budaya komunikan.
b. Menurut
William B. Gudykunst dan Young Yun Kim Model komunikasi antar budaya menurut
William B. Gudykunst dan Young Yun Kim merupakan komunikasi yang dilakukan oleh
orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan, atau orang asing. Dalam
model ini, masing-masing individu berperan sebagai pengirim sekaligus juga
penerima pesan. Dengan begitu, pesan yang disampaikan seseorang merupakan umpan
balik untuk lawan bicaranya.
c. Menurut
Tom Bruneau Menurut model ini waktu merupakan variable penting yang mendasari
semua situasi komunikasi. Waktu menentukan hubungan, pola hidup antar manusia,
dan pola hidup manusia tersebut dipengaruhi oleh budayanya. Dimensi waktu
meliputi perbedaan konsepsi waktu dan tempo khusus dari tiap kelompok budaya
(prilaku temporal).
Terdapat dua
jenis konsep waktu, yaitu: - Waktu Polikronik : Konsep waktu Polikronik
memandang bahwa waktu merupakan suatu putaran yang akan kembali dan kembali
lagi. Orang yang menganut konsep ini beranggapan bahwa apa yang dilakukan di
waktu ini, merupakan sesuatu yang bisa di perbaiki di waktu atau kesempatan
lain. Misalnya ketika tidak belajar dengan baik sehigga mendapatkan nilai
buruk, pelajar yang menganut konsep waktu polikronik akan berpikir dapat
memperbaikinya di waktu lain - Waktu Monokronik : Konsep waktu monokronik
memandang bahwa waktu berjalan lurus dari masa lsilam ke masa depan.
Orang yang
menganut konsep ini cenderung lebih menghargai waktu itu sendiri, sehingga
tidak ingin melewatkan waktu dengan hal yang sia-sia atau tidak berguna.
Misalnya seorang pelajar yang menganut konsep waktu monokronik akan terus
belajar dengan baik, agar dapat memperoleh nilai yang baik disetiap kesempatan.
HAKIKAT DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Menurut Devito, ada dua hakikat komunikasi antar budaya, yaitu:
a. Enkulturasi, Mengacu pada proses
dengan mana kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagaimana mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui
proses belajar, bukan melalui gen. Orangtua, kelompok teman, sekolah, lembaga
keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama di bidang kultur.
Enkulturasi terjadi melalui mereka.
b. Akulturasi, Mengacu pada proses
dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung
dengan kultur lain. Menurut Kim, penerimaan kultur baru bergantung pada
sejumlah faktor. Imigran yang datang dari kultur yang mirip dengan kultur tuan
rumah akan terakulturasi lebih mudah. Demikian pula, mereka yang lebih muda dan
lebih terdidik lebih cepat terakulturasi daripada mereka yang lebih tua dan
kurang berpendidikan.
Unsur-unsur Komunikasi Antar Budaya :
Unsur-unsur sosio budaya ini
merupakan bagian-bagian dari komunikasi antarbudaya. Bila memadukan unsur-unsur
tersebut, sebagaimana yang dilakukan ketika berkomunikasi, unsur-unsur tersebut
bagaikan komponen-komponen suatu sistem stereo, setiap komponen berhubungan
dengan dan membutuhkan komponen lainnya. Unsur-unsur tersebut membentuk suatu
matriks yang kompleks mengenai unsur-unsur yang sedang berinteraksi yang
beroperasi bersama-sama, yang merupakan suatu fenomena kompleks yang disebut
komunikasi antarbudaya.
Menurut Deddy Mulyana dan Jalaluddin
Rakhmat, unsur-unsur komunikasi antarbudaya terdiri dari 3 unsur, yaitu:
1. Persepsi adalah proses internal
yang dilakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan
dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain, persepsi adalah cara mengubah
energi-energi fisik lingkungan menjadi pengalaman yang bermakna. Komunikasi
antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam
mempersepsi obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian. Suatu prinsip penting
dalam pendapat ini adalah bahwa masalah-masalah kecil dalam komunikasi sering
diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi ini. Untuk memahami dunia dan
tindakan-tindakan orang lain, harus lebih dahulu memahami kerangka persepsinya.
Tiga unsur sosio budaya mempunyai pengaruh besar dan langsung atas makna-makna yang dibangun dalam persepsi. Unsur-unsur tersebut adalah sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude); pandangan dunia (world view), dan organisasi sosial (social organization). Ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi dan makna yang dibangun dalam persepsi, unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan subyektif.
a. Sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap
Kepercayaan secara umum dapat dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan
subyektif yang diyakini individu bahwa suatu obyek atau peristiwa memiliki
karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan melibatkan hubungan antara
obyek yang dipercayai dan karakteristik-karakteristiknya yang membedakannya.
Nilai-nilai adalah aspek evaluatif dari sistem-sistem kepercayaan, nilai dan
sikap. Dimensi-dimensi evaluatif ini meliputi kualitas-kualitas seperti
kemanfaatan, kebaikan, estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan, dan kesenangan.
Meskipun setiap orang mempunyai suatu tatanan nilai yang unik, terdapat pula
nilai-nilai yang cenderung menyerap budaya.
Nilai-nilai budaya biasanya berasal dari isu-isu filosofis lebih besar yang merupakan bagian dari suatu milleu budaya. Nilai-nilai ini umumnya normatif dalam arti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi rujukan seorang anggota budaya tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang benar dan yang salah, yang sejati dan palsu, positif dan negatif. Nilai-nilai budaya adalah seperangkat aturan terorganisasikan untuk membuat pilihan-pilihan dan mengurangi konflik dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai dalam suatu budaya menampakkan diri dalam perilaku-perilaku para anggota budaya yang dituntut oleh budaya tersebut. Nilai-nilai ini disebut nilai-nilai normatif. Kepercayaan dan nilai memberikan kontribusi bagi pengembangan dan isi sikap. Diperbolehkan mendefinisikan sikap sebagai suatu kecenderungan yang diperoleh dengan cara belajar untuk merespon suatu obyek secara konsisten. Sikap itu dipelajari dalam suatu konteks budaya. Bagaimanapun lingkungan, lingkungan itu akan turut membentuk sikap, kesiapan untuk merespon, dan akhirnya merubah perilaku.
b. Pandangan dunia (world view) Unsur budaya ini, meskipun konsep dan uraiannya abstrak, merupakan salah satu unsur terpenting dalam aspek-aspek perceptual komunikasi antarbudaya. Pandangan dunia berkaitan dengan orientasi suatu budaya terhadap hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam, alam semesta, dan masalah-masalah filosofis lainnya yang berkenan dengan konsep makhluk. Pandangan dunia mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu, dan banyak aspek budaya lainnya.
c. Organisasi sosial (social organization) Cara bagaimana
suatu budaya mengorganisasikan diri dalam lembaga-lembaganya juga mempengaruhi
bagaimana anggota-anggota budaya mempersepsi dunia dan bagaimana mereka
berkomunikasi.
2. Proses-proses verbal tidak hanya
meliputi bagaimana berbicara dengan orang lain namun juga kegiatan-kegiatan
internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata-kata yang digunakan.
Proses-proses ini (bahasa verbal dan pola-pola berpikir) secara vital
berhubungan dengan persepsi dan pemberian serta pernyataan makna. Bahasa
verbal. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambang
terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar, yang
digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman dalam suatu komunikasi
geografis atau budaya. Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk
menyalurkan kepercayaan, nilai, dan norma. Bahasa merupakan alat bagi
orang-orang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat
untuk berpikir. Pola-pola berpikir. Pola-pola berpikir suatu budaya
mempengaruhi bagaimana individu-individu dalam budaya itu berkomunikasi, yang
pada gilirannya akan mempengaruhi bagaimana setiap orang merespon
individu-individu dari suatu budaya lain.
3. Proses-proses nonverbal
Proses-proses verbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan,
namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal.
Proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi antarbudaya, terdapat
tiga aspek pembahasan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa
diam, konsep waktu, dan penggunaan dan pengaturan ruang. Perilaku nonverbal.
Sebagai suatu komponen budaya, ekspresi nonverbal mempunyai banyak persamaan
dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan
diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Karena kebanyakan komunikasi
nonverbal berlandaskan budaya, apa yang dilambangkannya seringkali merupakan
hal yang telah budaya sebarkan kepada anggota-anggotanya. Lambang-lambang
nonverbal dan respons-respons yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut
merupakan bagian dari pengalaman budaya, apa yang diwariskan dari suatu generasi
ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai
pengalaman lalu tentang lambang tersebut.
Budaya mempengaruhi dan mengarahkan
pengalaman-pengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga mempengaruhi dan
mengarahkan bagaimana mengirim, menerima dan merespons lambang-lambang
nonverbal tersebut. Konsep waktu. Konsep waktu suatu budaya merupakan
filsafatnya tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan pentingnya waktu
itu. Waktu merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banyak perbedaan
mengenai konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, dan
perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi. Penggunaan ruang. Cara
orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antarpersonal disebut
proksemik (proxemics). Proksemik tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang
yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Orientasi
fisik juga dipengaruhi oleh budaya, dan turut menentukan hubungan sosial.
BUDAYA, SUB-BUDAYA DAN KONTEKSTUALISASI
Budaya, budaya selalu bersangkutan dengan akal dan cara
hidup seseorang yang selalu berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Budaya
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat-istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Seperti bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari diri manusia sehingga
banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika
seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya dan
menyesuaikan perbeda-bedaannya, maka kita harus mengerti terhadap orang itu,
karena dia membuktikan kepada kita bahwa budaya itu dipelajari dan bukan hanya
dinilai.
Dalam hal ini, Prof. Dr. Koentjoronigrat mendefinisikan
bahwa kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar.
Pengertian paling tua atas kebudayaan dikemukakan oleh
Edward Burnett Tylor dalam karyanya berjudul Primitive Culture bahwa kebudayaan
adalah kompleks dari seluruh pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat-istiadat
dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai
anggota masyarakat. Atau seperti kata Hebding dan Glick (1992) bahwa kebudayaan
dapat dilihat secara material maupun non material. Kebudayaan material tampil
dalam objek material yang dihasilkan, kemudian digunakan manusia. Misalnya :
dari alat-alat yang paling sederhana seperti aksesoris perhiasan tangan, leher,
telinga, alat rumah tangga, pakaian, sistem computer, desain arsitektur, dan
mesin otomotif. Sebaliknya budaya non material adalah unsur-unsur yang
dimaksudkan dalam konsep norma-norma. Nilai-nilai, kepercayaan/keyakinan, serta
bahasa.
Kehidupan kita selalu ditandai oleh norma sebagai aturan
sosial untuk mematok perilaku manusia yang berkaitan dengan kelakuan bertingkah
laku, tingkah laku rata-rata atau tingkah laku yang diabstraksikan. Norma ideal
sangat penting untuk menjelaskan dan
memahami tingkah laku tertentu.
Unsur terpenting kebudayaan berikutnya adalah
kepercayaan/keyakinan yang merupakan konsep manusia tentang segala sesuatu di
sekelilingnya. Jadi kepercayaan/keyakinan itu menyangkut gagasan manusia
tentang individu, orang lain, serta semua aspek yang berkaitan dengan biologi,
fisik, sosial, dan dunia supranatural. Kepercayaan adalah gejala yang bersifat
intelektual terhadap kenyataan dari sesuatu atau ke-benaran suatu pendapat.
Unsur terakhir dari kebudayaan adalah bahasa, yakni sistem kode dan symbol baik
verbal maupun non verbal, demi keperluan komunikasi manusia yang dibangunnya.
Bagi banyak orang, kebudayaan adalah akumulasi dari
keselurahan kepercayaan dan keyakinan, norma-norma, kegiatan, instituisi,
maupun pola-pola komunikasi dari sekelompok orang. Kebudayan juga mengajarkan
kita untuk menghasilkan, memilih dan menjadi saluran informasi. Jadi sebenarnya
tidak ada komunitas tanpa kebudayaan atau tanpa masyarakat, dan juga tidak akan
ada masyarakat tanpa pembagian kerja atau masyarakat dan kebudayaan tanpa
komunikasi. Ini menjelaskan bahwa setiap individu ada didalam masyarakat dan
setiap masyarakat memiliki kebudayaan. Kehidupan dan dinamika sebuah masyarakat
serta kebudayaan ditentukan oleh komunikasi antara anggota masyarakat dan
anggota budaya.
Ada 2 hakikat komunikasi yaitu Enkulturasi dan Akulturasi :
Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya)
yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari
kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan
melalui gen. orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan. Dan
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui
kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain.
Fungsi komunikasi antarbudaya secara pribadi adalah
fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang
bersumber dari seorang individu. Dan secara sosial yaitu pengawasan antara
komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi.
Dalam Komunikasi antarabudaya terdapat perbedaan dalam
cara berkomunikasi antara orang yang satu dengan yang lainnya. Misalnya,
perbedaan ketika berkomunikasi dengan teman tentu akan berbeda ketika
berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dari kita atau lebih muda. Hal inilah
yang dinamakan dengan konteks dalam komunikasi. Perbedaan cara berkomunikasi
itu adalah hal yang sangat wajar dikarenakan situasi psikologis dan sosial.
Walaupun terdapat, disinilah kita mempelajari budaya orang lain agar kita dapat
berkomunikasi dengan baik.
Terdapat 3 pandangan dalam kebudayaan, antara lain:
Kebudayaan dalam pandangan sosiologi
Kebudayaan adalah
keseluruhan (total) atau pengorganisasian way of life termasuk
nilai-nilai, norma-norma, intuisi dan artifak yang dialihkan dari satu generasi
kepada generasi berikutnya melalui proses belajar.
Kebudayaan dalam pandangan Antropologi
Kebudayaan adalah
perilaku yang dipelajari, seorang tidak dapat dilahirkan dengan tanpa
kebudayaan, kebudayaan itu bersifat universal, setiap manusia memiliki
kebudayaan yang dia peroleh melalui usaha sekurang-kurangnya melalui belajar
biologis.
Kebudayaan dalam pandangan Humanistik
Kebudayaan merupakan “jumlah” dari seluruh sikap, adat
istiadat, dan kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dengan kelompok
lain, kebudayaan ditransmisikan melalui bahasa, objek material, ritual,
instuisi (misalnya sekolah), dan kesenian dari suatu generasi kepada generasi
berikutnya.
Ada lima konteks dalam pendekatan, antara lain:
Komunikasi Antarpribadi
Komunkasi antarbudaya juga termasuk konteks komuniaksi
antarpribadi, karena komunikasi antarbudaya itu melibatkan paling sedikit dua
atau tiga orang yang berbeda kebudayaan, lalu jarak fisik antara mereka sangat
dekat sati sama lain.
Komunikasi kelompok
Merupakan komunikasi di antara sejumlah orang, di dalam
komunikasi kelompok juga terjadi proses interaksi antar budaya dari para
anggota kelompok yang berbeda latar belakang kebudayaan. Termasuk dalam
pengertian konteks komunikasi antarbudaya adalah operasi komunikasi antar
budaya di kalangan in group dengan out group, atau bahkan antara beragai
kelompok.
Komunikasi organisasi
Melibatkan komunikasi antarpribadi dan kelompok yang
bersifat impersonal (komunikasi yang berstruktur) yang dilakukan oleh pribadi
atau kelompok kerja dalam satu organisasi. Jalur komunikasi organisasi adalah
jalur vertical, horizontal, dan diagonal.
Komunikasi public
Dalam komunikasi public, jumlah orang yang telribat dalam
komunikasi semakin banyak, umpan balik mulai lamban dan tertunda. Komunikasi
public adalah komunikasi yang dilakukan oleh seorang kepada sejumlah orang yang
berbeda latar belakang kebudayaan.
Komunikasi massa
Komunikasi massa adalah proses komunikasi dengan massa
yang dilakukan melalui media, yakni media massa seperti surat kabar, majalah
buku, radio, televisi, dan lain-lain.
Berikut beberapa konsep yang berkaitan dengan kebudayaan, antara lain:
- Budaya dominan – adalah Sebuah kebudayaan yang sangat menonjol dalam suatu masyarakat.
- Common Culture – adalah suatu sistem pertukaran symbol yang sama.
- Sub kultur – adalah suatu kelompok atau sub unit budaya yang berkembang ketika adanya kebutuhan sekelompok orang untuk memecahkan sebuah masalah.
- Curtural lag – adalah untuk menggambarkan proses sosial, budaya dan perubahan teknologi.
- Curtural schock – adalah hasil dari konfrontasi suatu masyarakat terhadap kebudyaan baru yang mendadak masuk dan menggangu kebudayaan mereka
- Kebudayan tradisional – adalah perilaku yang merupakan kebiasaan atau cara berpikir dari satu kelompok sosial yang ditampilkan melalui – tidak saja – adat istiadat tertentu.
- Multicultural – adalah konsep yang sangat kini luas digunakan untuk menggambarkan berbagai aktivitas yang didorong oleh beberapa maksud.
KOMUNIKASI BUDAYA TINGGI DAN BUDAYA RENDAH
Hall mengelompokkan budaya sebagai konteks tinggi dan
konteks rendah, tergantung dari dari arti apa yang datang dari ruang lingkupnya
dibandingkan dengan arti dari perkataan yang diucapkan (Samovar, Porter and
McDaniel, 2010, p.256).
Komunikasi konteks tinggi merupakan komunikasi di mana
sebagian besar informasi diketahui orang tersebut, dan hanya sedikit yang
dibagikan sebagai bagian dari pesan (Samovar, Porter and McDaniel, 2010,
p.257). Dengan kata lain, arti dari informasi yang dipertukarkan selama
interaksi tidak harus dikomunikasikan dengan kata-kata. Dalam budaya konteks
tinggi, komunikasi difokuskan lebih kepada bagaimana pesan tersebut disampaikan
daripada apa yang dikatakan serta waspada terhadap isyarat nonverbal.
Dalam budaya konteks tinggi, komunikasi yang dilakukan
cenderung kurang terbuka, mereka menganggap konflik berbahaya pada semua jenis
komunikasi (Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.257). Bagi masyarakat yang
menganut budaya ini, konflik dipandang harus dihadapi dengan hati-hati.
Beberapa negara yang tergolong menganut budaya ini adalah Amerika Indian,
Amerika Latin, Jepang, China, Afrika-Amerika, Korea, termasuk Indonesia
(Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.258).
Sedangkan komunikasi konteks rendah merupakan komunikasi
yang mana jumlah informasi lebih besar dari yang disampaikan. Atau, dalam
komunikasi konteks rendah, pesan verbal mengandung banyak informasi dan hanya
sedikit yang tertanam dalam konteks atau peserta (Samovar & Porter, 2010,
p.257).
Contoh masyarakat konteks rendah adalah masyarakat
Amerika yang lebih bergantung pada perkataan yang diucapkan dibanding perilaku
nonverbal untuk menyatakan pesan. Beberapa negara yang tergolong menganut
budaya konteks rendah adalah Jerman Swiss, Skandinavia dan Amerika Utara
(Samovar, Porter and McDaniel, 2010, p.258).
TEORI INTERAKSI SIMBOLIK, PROSES, MAKNA, DAN SIMBOL DALAM INTERAKSI
Teori
interaksi simbolik diperkenalkan oleh beberapa sosiolog, yaitu John Dewey,
Chales Horton Cooley, George Hebert Mead dan Hebert Blumer. Keempat tokoh ini
melihat interaksi simbolik dari perspektif sosial. Dasar dari teori
interaksionisme simbolik adalah teori behaviorisme sosial, yang memusatkan diri
pada interaksi alami yang terjadi antara individu dalam masyarakat dan
masyarakat dengan individu. Interaksi antar individu berkembang melalui
simbol-simbol yang mereka ciptakan. Simbolsimbol ini meliputi gerak tubuh
antara lain; suara atau vokal, gerakan fisik, ekspresi tubuh atau bahasa tubuh,
yang dilakukan dengan sadar. Ketika individu melakukan interaksi dengan
individu lain secara sadar, maka interaksi ini disebut interaksi simbolik. Di
dalam simbol-simbol yang dihasilkan oleh masyarakat (society) mengadung makna
yang bisa dimengerti oleh orang lain
Teori ini sejatinya dikembangkan dalam bidang psikologi
sosial dan sosiologi kemudian memiliki seperangkat premis tentang bagaimana
seorang diri individu dan masyarakat didefinisikan melalui interaksi dengan
orang lain dimana komunikasi dan partisipasi memegang peran yang sangat
penting.
Teori ini diperkenalkan oleh George Herben Mead (1934)
beliau tertarik untuk mengkaji interaksi sosial karena apa yang dilihat dari
interaksi dua atau lebih individu itu
berpotensi mengeluarkan simbol dan makna.
Dikarenakan pemikiran Mead tidak pernah dapat
dipublikasikan, Herbert Blumer kemudian mengumpulkan, menyunting, dan
mempublikasikan pemikiran Mead ke dalam sebuah buku bertajuk Mind, Self, and
Society (1937) sekaligus memberikan nama dan mengenalkan istilah teori
interaksi simbolik.
Teori interaksi simbolik memiliki tiga konsep utama, yaitu :
Pentingnya makna bagi perilaku manusia
Teori interaksi simbolik mengasumsikan bahwa makna
diciptakan melalui interaksi dan dimodifikasi melalui interpretasi. Teori ini
juga mengasumsikan bahwa bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia lainnya
tergantung pada makna yang diberikan oleh manusia itu sendiri.
Pentingnya
konsep diri
Teori interaksi simbolik mengasumsikan bahwa konsep diri
dikembangkan melalui interaksi dengan orang lain dan memberikan motif dalam
berperilaku. Memiliki konsep diri memaksa orang untuk membangun tindakan dan pikiran mereka secara
positif dibandingkan hanya sekedar mengekspresi-kannya kepada orang lain.
Hubungan antara individu dan masyarakat
Teori ini juga mengasumsikan bahwa budaya dan proses
sosial mempengaruhi manusia dan kelompok dan karenanya struktur sosial
ditentukan melalui jenis-jenis interaksi sosial. Teori ini mempertimbangkan
bagaimana norma masyarakat dan budaya menjadi perilaku individu.
Menurut Herbert Blumer, teori interaksi simbolis menitikberatkan pada tiga prinsip utama komunikasi yaitu meaning, language, dan thought.
-
MEANING
Berdasarkan teori interaksi simbolis, meaning atau makna
tidak inheren ke dalam obyek namun berkembang melalui proses interaksi sosial
antar manusia karena itu makna berada dalam konteks hubungan baik keluarga
maupun masyarakat. Makna dibentuk dan dimodifikasi melalui proses interpretatif
yang dilakukan oleh manusia.
-
LANGUAGE
Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan untuk menamakan
sesuatu. Bahasa merupakan sumber makna yang berkembang secara luas melalui
interaksi sosial antara satu dengan yang lainnya dan bahasa disebut juga
sebagai alat atau instrumen. Terkait dengan bahasa, Mead menyatakan bahwa dalam
kehidupan sosial dan komunikasi antar manusia hanya mungkin dapat terjadi jika
kita memahami dan menggunakan sebuah bahasa yang sama.
-
THOUGHT
Thought atau pemikiran berimplikasi pada interpretasi
yang kita berikan terhadap simbol. Dasar
dari pemikiran adalah bahasa yaitu suatu proses mental mengkonversi
makna, nama, dan simbol. Pemikiran termasuk imaginasi yang memiliki kekuatan
untuk menyediakan gagasan walaupun tentang sesuatu yang tidak diketahui
berdasarkan pengetahuan yang diketahui. Misalnya adalah berpikir.
Asumsi Dasar
- Manusia adalah hasil ciptaan yang unik karena memiliki kemampuan dalam menggunakan berbagai macam simbol.
- Manusia memiliki karakterstik sebagai manusia melalui interaksi yang dilakukan dengan manusia lainnya.
- Manusia adalah makhluk sadar yang memiliki self-reflective dan secara aktif membentuk perilaku mereka sendiri.
- Manusia adalah makhluk tujuan yang bertindak di dalam dan terhadap suatu situasi tertentu.
- Masyarakat manusia terdiri dari individu-individu yang terikat dalam interaksi simbolik.
DAFTAR PUSTAKA :
-
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta:
Professional books, 1997), hlm. 479. Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat,
Komunikasi Antar Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 27-36.
-
Dasar
– Dasar Komunikasi AntarBudaya Oleh Dr. Alo Liliweri, M.s
-
Stevenson, R.L. (1994). Global Communication in the
Twenty-First Century. New York: Longman.
-
Herman, Edward and McChesney, R (1997). The Global Media:
The Missionaries of Corporate Capitalism. Washington, DC: Cassell.
-
Mowlana, Hamid (1997). Global Information and World
Communication. LondonThousand Oak and New Delhi: Sage Publication.
-
Alleyne, Mark D.(1995). International Power and
International Communication. New York: Marten Press.
-
Fortner, Robert S.(1993). International Communication:
History, Conflict, and Control of the Global Metropolis. Belmont, California:
Wadswort Publishing Company.
-
McMillin, Divya C.(2007). International Media Studies.
Main Street, Malden: Blackwell Publishing.
- www.pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional.
-
www.kompasiana.com/model-komunikasi-antar-budaya.
-
www.kompasiana.com/putriunifa/proses-komunikasi-antarbudaya.
-

Mantapp
BalasHapus